Sejarah Qurban
Sejarah ibadah qurban memiliki akar yang sangat tua dalam peradaban manusia. Dalam tradisi Islam, ibadah ini merujuk pada dua peristiwa besar yang tercatat dalam Al-Qur’an, yaitu kisah putra Nabi Adam AS (Habil dan Qabil) serta kisah Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Berikut adalah garis besar sejarah perkembangannya:
1. Qurban Pertama di Bumi: Habil dan Qabil
Ritual qurban pertama kali dilakukan oleh dua putra Nabi Adam AS, yaitu Habil dan Qabil. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 27).
-
Latar Belakang: Keduanya diminta untuk mempersembahkan qurban sebagai bentuk ketaatan sekaligus penyelesaian sebuah perselisihan.
-
Persembahan: Habil, yang merupakan seorang peternak, memberikan hewan ternak terbaik dan paling gemuk dari kawasannya. Sementara Qabil, seorang petani, memberikan hasil pertanian yang buruk dan sisa-sisa.
-
Hasil: Allah SWT hanya menerima qurban dari Habil karena ketulusan dan ketakwaannya, sedangkan qurban Qabil ditolak karena rasa iri dan ketidakikhlasannya.
2. Puncak Sejarah: Ujian Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
Sejarah qurban yang kita laksanakan hari ini pada Hari Raya Idul Adha secara khusus bersumber dari keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS.
Momen ini menjadi salah satu ujian keimanan terbesar dalam sejarah umat manusia:
-
Mimpi sebagai Wahyu: Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi yang berulang bahwa ia harus menyembelih putra yang sangat dicintainya dan telah dinantikan bertahun-tahun, Ismail AS. Dalam Islam, mimpi seorang Nabi adalah wahyu.
-
Keikhlasan Sang Anak: Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan hal ini kepada Ismail, tanpa ragu Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).
-
Pergantian dengan Kibas: Ketika pisau sudah berada di leher Ismail dan keduanya telah berserah diri sepenuhnya, Allah SWT melihat ketulusan mutlak mereka. Allah kemudian melarang penyembelihan tersebut dan seketika menggantikan posisi Ismail dengan seekor domba/kibas jantan yang besar dari surga.
3. Syariat Qurban pada Zaman Nabi Muhammad SAW
Tradisi luhur Nabi Ibrahim ini kemudian dilestarikan dan disempurnakan menjadi syariat bagi umat Islam melalui Nabi Muhammad SAW.
Pada tahun ke-2 Hijriah, bertepatan dengan disyariatkannya salat Hari Raya Idul Adha, Rasulullah SAW menegaskan kembali ibadah qurban ini sebagai bentuk ibadah tahunan bagi umat Muslim yang mampu secara finansial. Hewan yang disembelih disesuaikan dengan hewan ternak utama di wilayah masing-masing (seperti unta, sapi, kambing, atau domba) untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada yang membutuhkan.
Inti dari Sejarah Qurban: Kata “Qurban” sendiri berasal dari bahasa Arab Qurbon yang berarti “dekat”. Sejarah mengajarkan kita bahwa esensi utama qurban bukanlah darah atau daging hewan tersebut, melainkan kedekatan spiritual, ketakwaan, dan kerelaan kita untuk melepaskan ego egois demi berbagi dengan sesama.
